my first FF in here, but no in my PC. kekekekek~
enjoy it guys, dont forget to leave your comment.
THANKS~
main cast:
- Park Min Jee
- Kim Hyung Joon (SS501)
- Son Dong Woon (BEAST)
other cast(s):
- Kim Hye Ri
- Park Jung Min (SS501)
~~~
“aigo… sulit sekali mencari pekerjaan yang cocok untukku!” gerutu min jee, ia melemparkan Koran terakhirnya yang ia punya. Hye ri yang setia menemani min jee, mengoreksi kembali daftar lowongan pekerjaan yang sudah dilingkari dengan spidol merah oleh min jee.
“hhh…” hye ri menghembuskan nafasnya, ia melepas kacamatanya.
“aku sudah terlalu merepotkanmu, hyeri a”
“apa yang kau bicarakan?” hye ri mendengus kesal, ia mendekati sahabatnya itu.
“orang tuamu sudah banyak membantuku. Mereka sudah berbaik hati membiayai kuliahku, bahkan mereka juga membantu membiayai pengobatan nenek. Bukankah itu terlalu merepotkan?”
“anio… sudahlah, jangan bicara seperti itu.”
“ehm…” min jee menggumam. Hye ri menatapnya.
“bagaimana kalau aku bekerja dirumahmu. Jadikan aku pembantu dirumahmu.” Usul min jee. ia mengedip-ngedipkan matanya.
“mwo?!” mata hye ri melotot, nyaris saja lepas.
“jadikan aku pembantu dirumahmu. Walaupun itu tidak sebanding dengan semua yang telah kudapatkan. Tapi, setidaknya itu bisa mengurangi sedikit beban orang tuamu. Bagaimana?” ucap min jee, alisnya terangkat.
“tidak! tidak! aku tidak akan pernah mengizinkanmu!” ucap hye ri, ia memukul meja.
“lalu bagaimana? aku tidak mungkin terus menopang hidupku kepada eomma dan appamu.” Ucap min jee.
“sudahlah, kau jalani dulu hidupmu ini. Semoga kau cepat mendapatkan pekerjaan jee a. tapi, jangan pernah berfikir bahwa kau merepotkan kami. Kami sama sekali tidak merasa direpotkan!” jelas hye ri, ia menepuk pelan pundak min jee.
“tapi…”
“sssst, sudahlah! Aku pulang! Baik-baik jee a.” pamit hye ri. Ia meninggalkan min jee sendiri.
Min jee POV
Andai appa dan eomma tidak secepat ini meninggalkanku, pasti aku akan lebih mudah menjalani hidup. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku sudah sangat merepotkan keluarga kim. Aku tidak bisa terus menerus berdiam diri. Aku harus segera mendapatkan pekerjaan.
“tapi, apa?” ucapku lemah, aku memandangi setumpuk Koran dihadapanku. Tak ada satu pekerjaanpun yang pantas untukku.
Terlalu lancang jika aku membiarkan mereka terus membantuku. Biaya kuliahku saja sudah sangat mahal. Apalagi bukan hanya aku dan hye ri yang kuliah. Dua kakak hye ri Kim Heechul dan Kim Ryeowook juga masih harus menyelesaikan kuliahnya. Sedangkan biaya kuliah saat ini pasti sangat mahal!
‘Nanti aku dikira tidak tahu malu! Hhh…’
Krucuk…krucuk…
“aish… aku lapar!” aku memegang perutku yang sudah bernyanyi sedari tadi. Aku bergegas mengambil jaket dan tas selempangku.
Aku berjalan menyusuri trotoar di sepanjang jalan menuju myeondong. Memandang stan-stan yang ada disebalah kanan dan kiriku. Aroma ramyeon mengusik indra penciumanku. Tanpa berfikir panjang aku memasuki restaurant mie yang bisa membuat air liurku menetes itu.
Setelah menghabiskan dua mangkuk mie, aku bergegas pulang.
Kasihan nenek, sendiri dirumah.
Aku melewati sebuah cafĂ©… ehm, bukan-bukan… bisa dibilang sebuah ‘pub’ tempat orang-orang melepas penatnya. Dentuman music terdengar keras dari dalam.
‘aku heran! Apa orang-orang itu tidak tuli? Kasihan telinga mereka jika harus mendengar dentuman music yang sangat keras.’ Gumamku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
Tiba-tiba ada sepasang kekasih yang keluar dari dalam pub itu. Sang wanita dengan perlahan memapah sang lelaki yang terlihat sangat mabuk.
“setelah ini kita ke hotel, oke?” ucap laki-laki itu. wanita yang memapahnya itu mengangguk penuh ‘gairah’. Aku bergidik mendengar percakapan mereka. Aku meneruskan langkahnku meninggalkan pelataran pub itu.
Baru melangkah beberapa langkah, tiba-tiba sebuah ide yang cukup ‘konyol’ keluar dari otakku.
‘kenapa aku tidak bekarja saja di pub itu? pasti upahnya lumayan!’ gumamku. Aku menghentikan langkahku.
‘tidak! tidak! kanapa aku bisa berfikiran seperti itu! ingat, min jee… jangan sampai kau lakukan hal itu!’ ucap hati putihku.
Aku mempercepat langkahku.
‘aish… tidak! aku tidak akan melakukan pekerjaan yang ‘hina’ seperti itu. aku harus tetap mejaga harga diriku.’
Sesampainya di rumah, kurebahkan tubuhku diranjangku yang empuk. Rasa lelah menjalari tubuhku. Kembali terlintas dibenakku tentang fikiranku untuk bekerja di pub itu.
‘bagaimana ini? Apa aku harus bekerja di tempat seperti itu? tapi, keadaan benar-benar mendesak. Aku tidak boleh terus-menerus menyusahkan ayah ibu hye ri. Paling tidak, aku akan membiayai pengobatan nenek dengan hasil keringatku sendiri.’
Min jee POV end
Karena lelah menimang-nimang keputusannya, akhirnya min jee terlelap.
“apa?! appa mau menjodohkanku?” mata hye ri terbelalak.
“ne, appa akan menjodohkanmu dengan anak dari sahabat appa.” Ucap sang woo, ayah hye ri.
“appa tidak bisa seenaknya begitu! Aku sudah memiliki kekasih yang menyayangi dan mencintaiku.” Hye ri berbohong,sebenarnya ia belum mempunyai kekasih.
“ehm… jinja? Tunjukkan pada appa kekasihmu itu.” ucap appa. Sebuah senyuman terukir dari bibirnya. Senyuman mengejek. Sang woo tau bahwa anaknya itu belum memiliki kekasih hingga sekarang.
“a…ta-tapi…”
“pokoknya appa tunggu keputusanmu, 3hari lagi. jika kau menyetujui perjodohan ini, maka appa akan terus membiayai kuliah min jee dan pengobatan nenek min jee, lalu appa akan segera menyiapkan segalanya untuk pernikahanmu kelak. Jika tidak, kau ikut saja dengan kekasihmu itu, kau tidak boleh kembali ke rumah ini!” ancam ayah hye ri. Ia meninggalkan ruang tengah dengan nafas yang terengah-engah karena menahan amarah.
“appaaa!!!” teriak hye ri. ‘ini sama saja dengan pemaksaan!’ lirihnya.
“eomma…” ucap hye ri, hanya eomma harapannya saat ini. Hye ri menatap ibunya. Air matanya sudah menggenang dipelupuk matanya. siap membanjiri pipi mulusnya.
“eomma juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hye ri a…” ucap sunmi, ibu hye ri.
“eommaa…” hye ri menumpahkan tangisnya dipelukan ibunya.
“memang hye ri belum memiliki kekasih! Tapi, hye ri tidak mau dijodohkan seperti ini. Hye ri tidak tahu rupa orang yang akan dijodohkan dengan hye ri ini. Hye ri tidak mau, eomma. Tidak mau…” curhat hye ri dengan terisak-isak.
***
Min jee menatap bayangan dirinya di kaca. Tubuhnya terbalut pakaian yang seksi. Bibirnya berwarana merah menyala. Wajahnya terpoles make up yang sangat tebal. Rambutnya ia biarkan terurai. Sepatu berhak tinggi mempertinggi tubuhnya.
‘aku tidak boleh menyesali keputusanku…’ gumam min jee. Ia menyambar tas hitam, yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Sekarang min jee sudah berdiri tepat dipelataran pub yang kemarin ia lewati. Ia melangkah masuk dengan mantapnya.
Dentuman music terdengar sangat keras. Orang-orang berhura-hura melepas lelah dan penat. Lampu disko menyinari kegiatan didalam pub ini.
Tadi siang, min jee sudah meminta izin pada manager pub untuk bekerja disini. Melihat tubuh min jee yang seksi dan menggiurkan.
tanpa berfikir lagi, manager pub menyetujui permintaan min jee.
tentu saja dengan gaji yang tidak sedikit. Karena itu yang min jee inginkan. Jika gajinya sedikit, untuk apa min jee mengorbankan harga dirinya demi pekerjaan seperti ini. Min jee terpaksa melakukan semua ini demi kesembuhan neneknya.
‘maafkan aku, halmeoni…’ ucapnya. Lalu dengan mantap min jee mendekati sekelompok lelaki yang sedang menikmati arak. Bau alkohol menyerang hidungnya. Rasanya ia ingin muntah!
“hai… mau aku temani…” ucap min jee dengan genit.
Sungguh! rasanya min jee jijik dengan dirinya sendiri. Tapi, apa boleh buat. Inilah konsekuensi yang harus diterimanya. Dia harus bersikap professional.
“tentu saja cantik… ayo, temani kami sampai pagi!” ucap salah satu namja.
Min jee terus menerus menuangkan arak ke gelas para klien-nya itu. dan membiarkan dirinya dijamah oleh mereka –para lelaki hidung belang-
“heii, cantik. Setelah ini kau harus menemaniku ke hotel,okey!”
Min jee terperanjat. Haruskah ia menuruti perintah lelaki itu? sepertinya tidak! Min jee sudah bersedia menemani para tamunya itu, dan merelakan dirinya dijamah oleh tangan nakal mereka.
“tidak, aku mau menemani kalian minum sampai pagi. Tapi tidak untuk menemanimu di hotel. Lebih baik kau mencari wanita lain. Maaf!” ucap min jee lantang. Min jee berjanji akan menghargai prinsipnya. Keperawanannya tidak untuk diperjual-belikan.
‘aku tidak ingin kehilangan hartaku yang paling beharga.’ Ucapnya geram. Ia mengepalkan kedua tangannya, lalu pergi meninggalkan para lelaki gatal itu.
“hei, lihat gadis itu! sombong sekali dia!” ucap namja itu, ia menatap kepergian min jee dengan jengkel.
“mwo?” tanya temannya. Ia meletakkan gelasnya ke meja.
“dia tidak bersedia menemaniku kehotel! Sialan!” umpatnya.
“hya… Song Dongwoon! Kenapa kau begitu bodoh! Sesulit itukah menaklukkan gadis seperti dia?”
“ish…”
“haha, aku akan membuatnya berlutut kepadaku. Hya, lihat kehebatanku!”
“aku tidak yakin kau bisa, yang ada kau yang akan berlutut memintanya menemanimu kehotel! Selamat mencoba Kim Hyung Joon!” ucap dongwoon dengan nada meremehkan.
Hyung joon meninggalkan temannya itu, ia mendekati min jee yang sedang ‘bersenang-senang’ dengan pria lain.
“boleh aku memintanya darimu?” ucap hyung joon.
“ah, n-ne!” ucap pria itu, nyalinya menciut saat melihat hyung joon.
“gadis cantik, maukah kau menemaniku?”
“ehm, tentu saja.” jawab min jee.
Dari jauh, hyung joon mengedipkan sebelah matanya. dongwoon yang memperhatikan tingkah laku temannya itu hanya dapat tersenyum sinis.
“coba saja, kalau kau bisa hyung joon a… aku tahu wanita itu bukanlah wanita yang mudah ditaklukkan.” Ucapnya dalam hati.
Satu jam sudah min jee menemani hyung joon.
“hei, cantik… sepertinya akan lebih asyik jika kau mau menemaniku ke hotel.” Ucap hyung joon, ia mengedipkan sebelah matanya.
“mwo?!”
“ayolah…” ajak hyung joon. Tangannya mencolek genit dagu min jee.
-lo kata sabun, bang! Dicolek-colek XDD-
“anio… maaf, aku tidak bisa. Lebih baik kau mencari wanita lain. Aku tidak dibayar untuk menemanimu ke hotel!”
“hah?! Sombong sekali kau!” ucap hyung joon.
“maafkan aku. Tapi, kukatakan sekali lagi padamu. Aku-tidak-bisa!” min jee murka. Ia meninggalkan hyung joon. Dimana harga dirinya?
“hei, kau!!” hyung joon menarik kasar lengan min jee. hingga wajah min jee terlihat jelas olehnya.
“mwo?!”
“berani-beraninya kau berkata seperti itu!”
“lepaskan!” dengan sekali sentakan, min jee berhasil melepas cekalan hyung joon.
“kau itu dibayar untuk melayani kami!”
“tidak!” seru min jee. Sorot matanya memancarkan amarah yang berkobar-kobar!
“kau! Lancang sekali!”
“maaf, aku masih memiliki harga diri.” Ucap min jee dengan nada penuh penekanan.
“haha, apa gadis sepertimu harga diri masih dipertahankan?!” ucap hyung joon. Ia tak kalah geramnya.
Dongwoon yang melihat keributan diantara hyung joon dan min jee, segera menghampiri mereka.
“maaf, aku tidak mudah dibeli dengan seonggok uangmu itu, tuan!”
Plaaaak!
Sebuah tamparan telak, melayang dipipi min jee.
“hyung joon a…” teriak dongwoon.
“tampar saja aku! Lebih baik aku mendapatkan tamparan darimu beribu-ribu kali. Daripada harus menemanimu ke hotel!! Dan menyerahkan keperawananku begitu saja!”
Nyaris tangan hyung joon mendarat di pipi min jee, tapi dongwoon menahannya.
“jangan menggunakan kekerasan disini, bung!” tahan dongwoon.
“tapi, gadis ini harus mendapatkan pelajaran!”
“sudahlah…” ucap dongwoon.
“kau masih ingin memintaku menemanimu ke hotel, tuan?” tanya min jee, ia tersenyum mengejek. Lalu meninggalkan hyung joon dan dongwoon.
“aku harus memberi gadis itu pelajaran. Lihat saja nona, aku tidak akan membiarkanmu lari!! Aku akan membuatmu tunduk padaku!!” ucap hyung joon. Sepertinya, ia tidak main-main dengan ucapannya. Ia memandang kepergian min jee dengan sengit. Sedangkan dongwoon berdecak kagum, melihat keberanian min jee. Ia salut dengan sikap min jee.
“lalu, bagaimana keputusanmu?” tanya appa hyeri.
“hhh… apa boleh buat.” Hye ri mendengus kesal, ia berkata tanpa memandang wajah ayahnya.
“bagus kalau begitu!” ucap ayah hye ri dengan senyum kemenangannya.
“tapi, dengan satu syarat appa!” ucap hye ri tiba-tiba.
“mwo?”
“aku tidak ingin menikah cepat-cepat. Aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu. Aku juga belum mengenal pria yang akan menjadi ‘menantu’ appa itu. Beri aku waktu untuk mengenalnya lebih dalam!” usul hye ri. Sang woo menatap Sunmi yang duduk manis disebelahnya. Sunmi mengangguk.
“baiklah… bukan ide yang buruk!” ucap sang woo. Lalu ia mengusap lembut kepala hye ri, dan pergi masuk ke ruang kerjanya.
Hye ri membanting tubuhnya diantara kedua kakaknya.
“bagaimana?” tanya heechul oppa.
“kau tahu sendiri!” jawab hye ri kesal.
“setahuku, calon suamimu itu sangat tampan! Dan ia pewaris perusahaan besar.” Imbuh ryeowook oppa.
“aaah… entahlah! Aku pasrah! Daripada min jee yang menjadi korban. Kasihan dia…” Dengus hye ri kesal.
Heechul mengacak rambut hye ri.
“adikku ternyata sudah mngerti arti pengorbanan!”
“oppaaa…”
Ryeowook tersenyum. “aku yakin, kau tidak akan menyesalinya.”
“ne, semoga saja.” ucap hye ri.
TBC...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar